Selasa, 31 Mei 2011

Iman Kepada Malaikat

PAISMPN21Padang.com-Beriman kepada Malaikat adalah rukun Iman yang kedua.
”Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya…” [Al Baqarah:285]

Mengimani Kitab-Kitab Allah

PAISMPN 21 PADANG.COM-Beriman kepada kitab-kitab Allah adalah termasuk salah satu rukun iman, sebagaimana firman Allah azza wa jalla yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 136)

Beriman Kepada Malaikat

PAI SMPN 21 Padang.com-Ukhty sekalian tentu telah mengetahui bahwasanya yang menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Malaikat Jibril. Kemudian pernahkah antunna (kalian) bertanya-tanya, apakah malaikat Allah hanya Jibril, atau adakah malaikat yang lainnya? Dan apa saja tugas mereka? Agar antunna tidak penasaran, mari kita simak ulasan berikut ini.

Sabtu, 28 Mei 2011

video aktivitas siswa SMPN 21 Padang

video
PAI SMPN 21 Padang.com- nah kali ini video tentang berbagai aktivitas siswa SMPN 21 Padang, yang diringi lagu sajadah panjang dan kisah klasik. tentunya akan memberi kesan dan hiburan tersendiri selamat menikmati..

Kamis, 26 Mei 2011

video kegiatan wirid siswa smpn 21 Padang

video
PAI SMPN 21 PADANG.COM-video kegiatan siswa SMPN 21 Padang, dengan banyak kegiatan yang positif diharapkan siswa terbiasa melakukan hal-hal yang bersifat positif.

NOstalgia di SMPN 21 Padang YUk

video
nah ini video tentang lingkungan SMNPN 21 Padang dengan keindahan dan berbagai kegiatan siswanya , yuk kita nikmati..

video siswa SMPN 21 Padang lagi belajar di lokal darurat

video
meskipun di lokal sederhana dan darurat, semangat belajar siswa smpn 21 padang tetap membara.

lagi wiwird jumat di lapangan smpn 21 padang

adalah acara wirid yang selalu digelar tiap haru jumat. smpn 21 Padang berusaha mengembangkan pengalaman keagamaan kepada semua siswa.

Video siswa SMPN 21 Padang

video ini diambil ketika siswa sedanag mengikuti kegiuatan tahun baru Islam di lapangan Imam Bonjol Padang

video Acara Wirid

 video ini adalah kegiatan wirid siswa smpn 21 Padang. dengan adanya kegiatan wirid tiap hari jumat diharapkan siswa mempunyai pengalaman keagamaan yang lebih baik.

Senin, 23 Mei 2011

Pengertian dan Penjelasan Shalat Sunat Tahajud, Dhuha, Istikhoroh, Tasbih, Taubat, Hajat, Safar

Persamaan Kata :
Shalat = Salat = Sholat = Solat
Sunat = Sunah
Tahajud = Tahajjud
Dhuha = Duha
Istikharah = Istikhoroh = Istikoroh
Safar = Shafar
Pada artikel ini akan dijelaskan pengertian shalat tahajud
1. Shalat Sunat Tahajud
Shalat sunat tahajud adalah shalat yang dikerjakan pada waktu tengah malam di antara shalat isya dan Shalat shubuh setelah bangun tidur. Jumlah rokaat shalat tahajud minimal dua rokaat hingga tidak terbatas. Saat hendak kembali tidur sebaiknya membaca ayat kursi, surat al ikhlas, surat al falaq dan surat an nas.
2. Shalat Sunat Dhuha
Shalat Dhuha adalah shalat sunat yang dilakukan pada pagi hari antara pukul 07.00 hingga jam 10.00 waktu setempat. Jumlah roka'at shalat dhuha minimal dua rokaat dan maksimal dua belas roka'at dengan satu salam setiap du roka'at. Manfaat dari shalat dhuha adalah supaya dilapangkan dada dalam segala hal, terutama rejeki. Saat melakukan sholat dhuha sebaiknya membaca ayat-ayat surat al-waqi'ah, adh-dhuha, al-quraisy, asy-syamsi, al-kafirun dan al-ikhlas.
3. Shalat Sunat Istikhoroh
Shalat istikhoroh adalah shalat yang tujuannya adalah untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT dalam menentukan pilihan hidup baik yang terdiri dari dua hal/perkara maupun lebih dari dua. Hasil dari petunjuk Allah SWT akan menghilangkan kebimbangan dan kekecewaan di kemudian hari. Setiap kegagalan akan memberikan pelajaran dan pengalaman yang kelak akan berguna di masa yang akan datang. Contoh kasus penentuan pilihan :
- memilih jodoh suami/istri
- memilih pekerjaan
- memutuskan suatu perkara
- memilih tempat tinggal, dan lain sebagainya
Dalam melakukan shalat istikharah sebaiknya juga melakukan, puasa sunat, sodakoh, zikir, dan amalan baik lainnya.
4. Shalat Sunat Tasbih
Shalat tasbih adalah solat yang bertujuan untuk memperbanyak memahasucikan Allah SWT. Waktu pengerjaan shalat bebas. Setiap rokaat dibarengi dengan 75 kali bacaan tasbih. Jika shalat dilakukan siang hari, jumlah rokaatnya adalah empat rokaat salam salam, sedangkan jika malam hari dengan dua salam.
5. Shalat Sunat Taubat
Shalat taubat adalah shalat dua roka'at yang dikerjakan bagi orang yang ingin bertaubat, insyaf atau menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukannya dengan bersumpah tidak akan melakukan serta mengulangi perbuatan dosanya tersebut. Sebaiknya shalat sunah taubat dibarengi dengan puasa, sodaqoh dan sholat.
6. Shalat Sunat Hajat
Shalat Hajat adalah shalat agar hajat atau cita-citanya dikabulkan oleh Allah SWT. Shalat hajat dikerjakan bersamaan dengan ikhtiar atau usaha untuk mencapai hajat atau cita-cita. Shalat sunah hajat dilakukan minimal dua rokaat dan maksimal duabelas bisa kapan sajadengan satu salam setiap dua roka'at, namun lebih baik dilakukan pada sepertiga terakhir waktu malam.
7. Shalat Sunat Safar
Shalat safar adalah solat yang dilakukan oleh orang yang sebelum bepergian atau melakukan perjalanan selama tidak bertujuan untuk maksiat seperti pergi haji, mencari ilmu, mencari kerja, berdagang, dan sebagainya. Tujuan utamanya adalah supaya mendapat keridhoan, keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT.

Pengertian Wudhu/Wudu dan Tata Cara Wudhu - Agama Islam


Wudhu adalah mensucikan diri dari segala hadast kecil sesuai dengan aturan syariat islam.
Niat Wudhu :
NAWAITUL WUDHUU-A LIROF'IL HADATSIL ASGHORI FARDHOL LILLAHI TA'AALAA.
Artinya :
Saya niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil karena Allah Ta'ala.
Yang dapat membatalkan wudhu anda :
a. mengeluarkan suatu zat dari qubul (kemaluan) dan dubur (anus). Misalnya buang air kecil, air besar, buang angin/kentut dan lain sebagainya.
b. kehilangan kesadaran baik karena pingsan, ayan, kesurupan, gila, mabuk, dan lain-lain.
c. Bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya tanpa tutup.
d. tidur dengan nyenyak, kecuali tidur mikro (micro sleep) sambil duduk tanpa berubah kedudukan.
Cara Berwudhu :
a. membaca bismillah
b. membasuh tangan
c. niat wudhu
d. berkumur dan membesihkan gigi (3x)
e. membasuh seluruh muka/wajah sampai rata (sela-sea janggut bila ada) (3x)
f. membasuh tangan hinnga siku merata (3x yang kanan dulu)
g. membasuh rambut bagian depan hingga rata (3x)
h. membasuh daun telinga/kuping hinnga merata (3x sebelah kanan dulu)
i. membasuh kaki hingga mata kaki sampai rata (3x kanan dahulu)
j. membaca doa setelah wudhu

Cara/Syarat Menjadi Imam & Makmum Sholat Berjamaah, Posisi & Ketentuan Shalat Jamaah

A. Syarat Sah Manjadi Imam Dalam Shalat Berjama'ah
Sebelum memulai shalat dengan makmumnya, seorang imam setelah muazin selesai mengumandangkan azan dan komat, maka imam berdiri paling depan dan menghadap makmum untuk mengatur barisan terlebih dahulu. Jika sudah lurus, rapat dan rapi imam menghadap kiblat untuk mulai ibadah sholat berjamaah dengan khusyuk.
Syarat Untuk Menjadi Imam Sholat Berjama'ah :
1. Lebih banyak mengerti dan paham masalah ibadah solat.
2. Lebih banyak hapal surat-surat Alquran.
3. Lebih fasih dan baik dalam membaca bacaan-baca'an salat.
4. Lebih senior / tua daripada jama'ah lainnya.
5. Tidak mengikuti gerakan shalat orang lain.
6. Laki-laki. Tetapi jika semua makmum adalah wanita, maka imam boleh perempuan.
Bacaan dua rokaat awal untuk sholat zuhur dan ashar pada surat Al-fatihah dan bacaan surat pengiringnya dibaca secara sirran atau lirih yang hanya bisa didengar sendiri, orang lain tidak jelas mendengarnya. Sedangkan pada solat maghrib, isya dan subuh dibaca secara jahran atau nyaring yang dapat didengar makmum. Untuk shalat sunah jumat, idul fitri, idul adha, gerhana, istiqo, tarawih dan witir dibaca nyaring, sedangkan untuk sholat malam dibaca sedang, tidak nyaring dan tidak lirih.
B. Syarat Sah Manjadi Ma'mum Dalam Shalat Berjama'ah
Syarat Untuk Menjadi Makmum Sholat Berjama'ah :
1. Niat untuk mengikuti imam dan mengikuti gerakan imam.
2. Berada satu tempat dengan imam.
3. Laki-laki dewasa tidak syah jika menjadi makmum imam perempuan.
4. Jika imam batal, maka seorang makmum maju ke depan menggantikan imam.
5. Jika imam lupa jumlah roka'at atau salah gerakan sholat, makmum mengingatkan dengan membaca Subhanallah dengan suara yang dapat didengar imam. Untuk ma'mum perempuan dengan cara bertepuk tangan.
6. Makmum dapat melihat atau mendengar imam.
7. Makmum berada di belakang imam.
8. Mengerjakan ibadah sholat yang sama dengan imam.
9. Jika datang terlambat, maka makmum akan menjadi masbuk yang boleh mengikuti imam sama sepertimakmum lainnya, namun setelah imam salam masbuk menambah jumlah rakaat yang tertinggal. Jika berhasil mulai dengan mendapatkan ruku' bersama imam walaupun sebentar maka masbuk mendapatkan satu raka'at. Jika masbuk adalah makmum pertama, maka masbuk menepuk pundak imam untuk mengajak sholat berjama'ah.
C. Posisi Imam Dan Makmum Sholat Jama'ah / Besama-Sama
1. Jika terdiri dari dua pria atau dua wanita saja, maka yang satu menjadi imam dan yang satu menjadi makmum berada di sebelah kanan imam agak ke belakang sedikit.
2. Jika makmum terdiri dari dua orang atau lebih maka posisi makmum adalah membuat barisan sendiri di belakang imam. Jika makmum yang kedua adalah masbuk, maka masbuh menepuk pundak mamum pertama untuk melangkah mundur membuat barisan tanpa membatalkan sholat.
3. Jika terdiri dari makmum pria dan makmum wanita, maka makmum laki-laki berada dibelakang imam, dan wanita dibalakang makmum lakilaki.
4. Jika ada anak-anak maka anak lelaki berada di belakang makmum laki-laki dewasa dan disusul dengan makmum anak-anak perempuan dan kemudian yang terakhir adalah makmum perempuan dewasa.
5. Makmum bencong atau transeksual tetap tidak diakui dan kalau ingin sholat berjama'ah mengikuti jenis kelamin awal beserta perangkat sholat yang dikenakan.

Senin, 16 Mei 2011

SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW


A. Misi Kerasulan Nabi Muhammad Saw.
1. Menyempurnakan akhlak manusia
Salah satu misi terpenting Rasulullah SAW adalah menyempurnakan akhlak manusia. Hal ini ditegaskan oleh Nabi sendiri:
إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلاَخْلاَقِ
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Dalam catatan sejarah, masyarakat Arab sebelum kelahiran Muhammad dikenal dengan masyarakat jahiliyah yang artinya bodoh. Kebodohan itu bukan dari kemampuan otaknya, akan tetapi jahiliyah itu tampak dalam persoalan aqidah dan akhlaknya. Setelah diangkatnya Muhammad sebagai nabi dan rasul, perubahan besar telah terjadi di masyarakat Arab. Kemuliaan akhlak para sahabat telah tertulis dalam tinta emas sejarah yang hingga saat ini bisa diteladani oleh generasi-generasi sesudahnya.
Keberhasilan tersebut dapat diraih dengan kepribadian mulia yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW. Mengenai kepribadian yang mulia ini, Allah memujinya dalam firman-Nya surat Qalam/68: ayat 4:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya:
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Dalam banyak literatur disebutkan bahwa semasa hidupnya, Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai seorang yang penyayang, suami yang bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya, serta sebagai sahabat yang tulus dan setia. Sebagai seorang pemimpin, beliau juga sebagai seorang perwira yang gagah dan pemberani, komandan militer yang cakap, administrator yang piawai, hakim yang adil, negarawan yang ulung, dan kepribadian yang luhur.
Nabi Muhammad SAW juga dikenal dekat dengan kaum mustadh’afin (orang-orang yang lemah), seperti fakir miskin dan orang-orang tertindas lainnya. Beliau sangat memperhatikan dan menyayangi mereka. Dia juga tidak pernah dendam kepada orang lain, walaupun orang itu telah menyakitinya. Bahkan ketika orang-orang kafir Quraisy menteror dan menyakiti Nabi, beliau malah mendo’akan mereka:
رَبِّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لاَيَعْلَمُوْنَ (رواه مسلم)
Artinya:
Wahai Tuhanku, ampunilah dosa-dosa kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. (H.R. Bukhari)
Keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW, ketulusan hati, keadilan sikap, kepekaan rasa, keteguhan, dan kesungguhannya dalam menjalankan tugas dan misi yang diamanahkan Allah kepada dirinya merupakan karakter Nabi yang khas. Kesederhanaan hidup dan kasih sayang merupaka sifat-sifat yang menyatu dalam kepribadiannya. Terutama kepada orang-oranng yang beriman, nabi sangat mencintai mereka. Hal ini ditegaskan Allah dalam al-Qur’an:
لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
Artinya:
Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (Qs. At-Taubah/9: 128)
Dalam mengajak kaumnya untuk mengerjakan amal kebaikan, nabi selalu mendahulukan contoh teladan yang jelas. Dengan demikian, apa yang diperinntahkan beliau dapat dikerjakan dengan mudah oleh umatnya. Mereka mengerjakan perintah itu dengan senang tanpa ada keraguan, kebimbangan dan keterpaksaan.
Jadi, dengan kesempurnaan akhlak yang dimilikinya, Rasulullah SAW menjadi teladan bagi seluruh umat. Mengenai keteladanan ini, Allah juga berfirman dalam surat al-Ahzab/33 ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Keteladanan inilah yang menjadi modal utama dalam mendidik akhlak manusia. Keteladanan tersebut dapat ditelaah dalam kitab-kitab sejarah dan penjelasan para sahabat.
2. Membangun manusia yang mulia dan bermanfaat.
Dengan kemuliaan akhlak Rasulullah, ia juga memiliki misi untuk membangun manusia yang mulia dan bermanfaat. Misi tersebut dapat dilihat dari beberapa konsep ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW di antaranya sebagai berikut:
a. Manusia memiliki darajat yang sama, yang membedakannya hanyalah kualitas ketakwaannya saja.
Misi nabi untuk memuliakan manusia terlihar dari perjuangannnya dalam menghapus perbedaan kasta sosial. Misi ini merupakan misi yang sangat penting dan menonjol sekaligus membawa dampak positif yang amat luas. Nabi menghilangkan jurang pemisah antara sesama anggota masyarakat yang didasarkan harta kekayaan, jabatan, keturunan, termasuk warna kulit. Mereka semua memiliki derajat yang sama, sedangkan yang membedakan kemuliaan mereka hanyalah kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya:
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. (Qs. Al-Hujurat: 13)
Perlu pula ditegaskan bahwa ketakwaan seseorang hanya dapat dilihat oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, jangan merendahkan seseorang, siapa tahu dia lebih bertakwa dari pada kita.
b. Manusia dipandang sebagai makhluk yang paling baik diciptakan sekaligus sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi.
Dalam ajaran Islam, manusia adalah makhluk yang paling mulia di antara makhluk lain, sebab ia diciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya dan berfungsi sebagai hamba-Nya sekaligus sebagai khalifah fil-ardhi. Sebagai hamba Allah, manusia mesti beribadah kepada Allah baik secara khusus, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya; maupun secara umum, yaitu melakukan segala aktivitas sesuai dengan perintah Allah atau tidak bertentangan dengan perintah-Nya. Sementara manusia sebagai khalifah fil ardhi menunjukkan bahwa manusia mesti bertanggung jawab mengelola alam sekitarnya secara baik untuk kemaslahatan umat dan menegakkan agama Allah. Khalifah fil ardhi merupakan tugas yang amat mulia dan hanya diberikan kepada makhluk Allah yang bernama “manusia”.
Kemudian, Allah juga memberikan bentuk yang amat baik bagi manusia. Hal ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Qs. At-Tin/95: 4)
Kesempurnaan bentuk dapat dilihat dari kelengkapan organ tubuh secara fisik dan berbagai potensi yang dimilikinya, baik potensi akal, nafsu, maupun potensi qalbu. Dengan ketaatan dan kreasi manusia dalam mengelola alam ini membuktikan bahwa perannya sangat besar dalam kehidupan makhluk ini. Namun, kemuliaan manusia itu tergantung usaha maksimalnya dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba dan tugasnya sebagai khalifah fil ardhi. Jika tugas itu tidak terlaksana, maka manusia tersebut tidak lagi menjadi mulia melainkan berkedudukan menjadi hina. Itulah yang dibina oleh Rasulullah agar umat tetap dalam keadaan mulia. Membangun manusia yang mulia itu, dilakukan melalui pengamalan ajaran Islam secara sempurna sebagaimana yang ia ajarkan.
c. Membebaskan manusia dari perbudakan
Misi memuliakan manusia juga dilihat dari perjuangan nabi membebaskan manusia dari perbudakan. Secara berangsur-angsur tetapi pasti, sistem perbudakan yang melekat pada kebudayaan Arab, bahkan terjadi di masyarakat Yunani, Romawi, masyarakat Yahudi bahkan Nasrani memperlakukan budak secara tidak manusiawi. Umat nasrani ketika itu mengakui perbudakan sebagai institusi yang sah tanpa berusaha meningkatkan status dan kesejahteraan budak.
Sementara Nabi Muhammad SAW menetapkan sejumlah peraturan yang membantu meninggikan status mereka. Beliau menegaskan tidak ada perhambaan terhadap sesama manusia. Perhambaan yang ada hanyalah antara makhluk (manusia) yang menghambakan diri kepada sang Khaliq (Allah SWT). Untuk itu, nabi menyuruh umat Islam memperlakukan budak secara adil dan memotivasi mereka untuk menebus budak tersebut untuk dimerdekakan, seperti yang pernah dilakukan oleh Abu Bakar Shiddiq yang menebus dan memerdekakan Bilal bin Rabah. Setelah umat Islam telah kuat, maka perbudakan pun dihapuskan.
d. Mengangkat derajat kaum perempuan
Nabi SAW mengajarkan untuk mengangkat derajat kaum perempuan yang sebelumnya dianggap hina. Masyarakat Arab jahiliyah menganggap anak perempuan yang mereka lahirkan sebagai aib bagi keluarga karena jika ia tumbuh dewasa hanya akan diperlakukan sebagai pemuas nafsu birahi kaum laki-laki.
Kehadiran Muhammad sebagai nabi dan rasul menghapus perlakuan tersebut. Hal itu dapat dilihat dari konsep Islam yang menyamakan antara laki-laki dan perempuan yang beriman dalam beribadah kepada Allah SWT. Firman-Nya:
وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتَ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُوْلَـئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُونَ نَقِيراً
Artinya:
Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (Qs. An-Nisa’/4: 124).
e. Nabi SAW mengajarkan bahwa manusia yang paling baik adalah yang banyak memberikan manfaat kepada orang lain.
Nabi senantiasa memotivasi umat agar hidup mulia dan bermanfaat. Hal itu dapat dilihat dari sabdanya:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: Sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain.
Dengan demikian, umat Muhammad akan selalu berbuat baik kepada sesamanya dan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merusak persaudaraan. Kehadirannya tidak menyusahkan, tetapi menguntungkan, menyenangkan dan memberi manfaat bagi orang di sekitarnya.
3. Sebagai rahmat bagi alam semesta, pembawa kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan masyarakat.
Salah satu misi terpenting adalah sebagai rahmat bagi sekalian alam. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya surat al-Anbiya’ ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Salah satu makna rahmat dalam ayat di atas adalah kebaikan. Maksudnya, Allah mengutus Nabi Muhammad SAW menjadi rasul demi kebaikan seluruh alam. Hal itu terbukti dengan berbagai perubahan yang berhasil dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap bangsa Arab, dan perubahan yang berhasil dilakukan oleh umat Islam terhadap dunia pada umumnya. Di antara perubahan yang berhasil ia lakukan adalah:
a. Segi Keagamaan
Sebelumnya, bangsa Arab yang dikenal dengan zaman jahiliyah menyembah patung dan batu-batu berhala. Mereka juga menyembah hewan-hewan kurban di hadapan berhala tersebut demi untuk memuliakannya. Mereka berada dalam kemusyrikin yang nyata. Kemudian dengan diutusnya nabi Muhammad SAW, kepercayaan itu berganti dengan keyakinan tauhid, dimana hanya Allah yang patut untuk disembah. Semenjak itu, masyarakat Arab memiliki peradaban yang tinggi dan menganut agama tauhid yang sesungguhnya.
b. Segi Kemasyarakatan
Zaman jahiliyah juga ditandai dengan buruknya sistem kemasyarakatan. Hukum yang berlaku adalah hukum rimba dimana yang kuat berkuasa sementara yang lemah menjadi mangsa. Pertumpahan darah sering terjadi antara satu kabilah dan satu suku lainnya. Lebih ironis lagi, kaum perempuan diletakkan pada derajat yang amat hina, sehingga mereka merasa malu memiliki anak perempuan. Tidak sedikit di antara mereka yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup.
Kedatangan Islam yang mengajarkan kemuliaan manusia dan pentingnya saling menghormati dan menyayangi satu sama lain telah membawa perubahan besar terhadap masyarakat Arab, bahkan masyarakat dunia pada umumnya. Islam telah memberikan aturan yang tegas dan jelas tentang persaudaraan, baik persaudaraan seagama, antar agama, sesuku, hingga kepada antar tetangga. Bahkan Islam mengajarkan pemeluknya untuk melakukan hubungan baik kepada Allah (hablun minallah) dan hubungan baik sesama manusia (hablun minannas). Dengan demikian, lahirlah hukum-hukum kemasyarakatan yang berdiri dengan prinsip-prinsip keadilan. Begitu pula kaum perempuan memiliki derajat yang sama mulianya dengan kaum laki-laki ketika mereka beriman dan beramal shaleh.
c. Segi Politik
Seperti yang telah dijelaskan di atas, masyarakat Arab jahiliyah selalu berperang antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Mereka tidak memiliki rasa persaudaraan dan ikatan setanah air. Mereka hanya diikat oleh rasa sesuku, atau sebatas pertalian darah. Mereka akan mengangkat pemimpin hanya dari kalangan mereka sendiri sehingga masing-masing suku memiliki pemimpin dan antara yang satu dengan yang lainnya sering berselisih sehingga terjadilah pertumpahan darah.
Islam telah merubah ikatan persaudaraan sedarah itu dengan ikatan persaudaraan seaqidah. Maka terjalinlah kesatuan atas dasar persaudaraan dan agama di bawah naungan Islam. Demikianlah bangsa Arab yang tadinya bercerai berai telah hidup berkelompok yang pada gilirannya memiliki pemerintahan yang tunduk pada hukum-hukum berdasarkan hukum Allah dan Rasulullah yang sangat adil dan sempurna.
Kemudian, Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan kasih sayang yang tidak hanya kepada manusia saja, tetapi lebih dari itu ia mengajarkan kasih sayang kepada sekalian makhluk Allah, seperti:
a. Kepada hewan dan tumbuhan hendaklah manusia memelihara dan menyayanginya. Manusia tidak boleh menyiksa binatang contohnya pada saat menyembelih hewan dilarang menggunakan alat yang tumpul sehingga menyiksanya.
b. Sebagai khalifah Allah di bumi, maka menjadi hak manusia untuk memanfaatkan alam untuk kesejahteraannya, tetapi juga menjadi tugasnya menjaga kelestarian alam. Manusia tidak boleh berbuat semena-mena dan merusak alam. Allah berfirman dalam Q.s. al-A’raf/7 ayat 56:
وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفاً وَطَمَعاً إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
c. Kepada makhluk ghaib, seperti malaikat, kita harus mengimani bahwa mereka adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya dan mempunyai tugas masing-masing.
d. Kepada makhluk ghaib yang lain seperti jin kita harus mempercayai keberadaannya dan hidup berdampingan tanpa saling mengganggu dan menyadari bahwa manusia dan jin diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.
B. Perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam menghadapi masyarakat Mekah
Sebelum Islam datang masyarakat Mekah berada dalam zaman Jahiliyah dengan segala bentuk perbuatan yang dilarang oleh agama Islam, seperti judi, mabuk-mabukan, penganiayaan, perampokan, dan perzinahan merupakan bagian hidup mereka sehari-hari.
Dalam kondisi akhlak masyarakat Mekah seperti itu, Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai rasul terakhir untuk menyampaikan kebenaran dan kesempurnaan wahyu Allah dengan misi utama menyeru agama tauhid kepada seluruh umat manusia. Dalam menyampaikan ajaran Islam, Rasulullah menempuh dua cara, yaitu: dakwah secara sembunyi-sembunyi dan dakwah secara terang-terangan.
Dakwah secara sembunyi-sembunyi dilakukan kepada keluarga terdekatnya. Hal ini dilakukan pada tahap awal untuk menghindari kontak fisik dengan kafir Quraisy yang kebanyakan tidak menerima dakwah nabi. Orang pertama yang menyatakan keimanannya adalah istrinya sendiri, Khadijah lalu disusul sepupunya Ali bin Abi Thalib yang ketika itu anak-anak. Menyusul pula Zaid bin Harisah, pembantu nabi yang kemudian menjadi anak angkat beliau. Begitu pula sahabat nabi sejak kecil, yaitu Abu Bakar Shiddiq.
Dengan perantara Abu Bakar, banyak pula orang-orang yang menyatakan keislamannya, seperti: Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqas, Talhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin Jarrah, Arqam bin Abil Arqam, Fatimah binti Khattab (adik Umar bin Khattab) bersama suaminya Said bin Zaid al-‘Adawi dan beberapa penduduk lainnya dari kabilah Quraisy. Mereka yang pertama beriman ini disebut sebagai assabiqunal awwalun.
Adapun tempat pembinaan para sahabat ini dilakukan di rumah Arqam, dekat bukit Shafa. Disinilah mereka mempelajari al-Qur’an dan memahami maknanya. Mereka memiliki semangat yang tinggi sehingga mereka tidak hanya pasif, tetapi aktif berdakwah kepada keluarga terdekat dan sahabat-sahabat mereka, meskipun dalam keadaan sembunyi-sembunyi.
Sekitar dua tahun kemudian, nabi dan para sahabat pun melakukan dakwah secara terang-terangan. Hal ini dilakukan nabi setelah turunnya perintah Allah seperti yang dijelaskan dalam firman-Nya surat al-Hijr/15: 94-95
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ. إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ
Artinya:
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).
Suatu ketika, Rasulullah memanggil semua penduduk Mekah di bukit Shafa. Di depan orang banyak, beliau menyatakan sebagai utusan Allah yang bertugas memberi peringatan kepada manusia. Beliau menyeru mereka untuk hanya menyembah Allah dan meninggalkan berhala. Mereka yang mendengar pun langsung gaduh dan para pembesar Quraisy meluapkan kemarahannya dengan berteriak-teriak dan menganggap nabi tidak waras. Seperti Abu Lahab, berteriak “Celakalah engkau Muhammad, untuk inikah engkau mengumpulkan kami di sini?”. Ketika itu turunlah wahyu Allah:
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ. مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ. سَيَصْلَى نَاراً ذَاتَ لَهَبٍ. وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ. فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍ.
Artinya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (Qs. Al-Lahab/111: 1-5)
Sejak peristiwa itu, aksi-aksi menentang dakwah nabi pun bermunculan. Orang-orang kaya dan berpengaruh bergabung membentuk perlawanan. Nama-nama seperti Abu Sufyan, Abu Lahab, Abu Jahal, Umaiyah, Utbah bin Rabiah, Walid bin Mughirah dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka selalu berusaha untuk menghentikan dakwah nabi dengan berbagai cara.
Adapun bentuk cobaan, ancaman dan gangguan yang bertubi-tubi dilakukan oleh orang-orang kafir dalam menentang dakwah Rasulullah adalah sebagai berikut:
a. ejekan, hinaan, dan tuduhan-tuduhan yang sering dilontarkan oleh orang-orang kafir. Tujuan mereka adalah untuk melecehkan dan menurunkan mental umat Islam;
b. menjelek-jelekkan serta membangkitkan keraguan atas ajaran Rasulullah;
c. melawan ajaran Allah dengan dongeng-dongeng agar manusia lupa dan meninggalkan agama Allah;
d. menawarkan Rasululullah untuk menyembah berhala dan mereka pun akan menyembah Allah;
e. mengancam akan membunuh Rasulullah jika tidak menghentikan dakwah;
f. dan sebagainya.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa reaksi masyarakat Mekah menerima ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW tidaklah baik. Namun dengan kesabaran dan keimanannya, Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat tetap berjuang menegakkan agama tauhid. Mereka tidak pernah putus asa dan tetap rela berkorban, baik harta, tenaga, pikiran, bahkan dengan nyawa sekalipun. Akhirnya jumlah pengikut Nabi Muhammad SAW pun semakin banyak.
C. Meneladani perjuangan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat dalam menghadapi masyarakat Mekah
Perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang tidak kenal lelah patut kita teladani, untuk mencapai keberhasilan, kemenangan, dan kebahagiaan. Di antara hal-hal yang harus kita teladani dari perjuangan nabi Muhammad SAW dan para sahabat dalam menghadapi kaum Quraisy Mekah adalah sebagai berikut.
1. Keteguhan hati
Dalam menegakkan dan memperjuangan agama Islam, nabi Muhammad SAW dan para sahabat mendapat banyak rintangan, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Namun, Rasulullah beserta sahabat mampu menghadapi berbagai rintangan tersebut dengan keteguhan hati sehingga Islam tetap berdiri dan diterima oleh masyarakat Mekah khususnya, dan pada masa-masa selanjutnya Islam tersebar begitu pesatnya hingga saat ini.
2. Keberanian
Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat memiliki keberanian dalam menghadapi segala macam tantangan, cobaan, rintangan dan tantangan dari kafir Quraisy beserta sekutu-sekutunya, seperti orang-orang musyrik, Yahudi, Nashrani. Semua itu dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dengan lapang dada, berani dan pantang menyerah. Sikap keberanian nabi itu tampak beberapa kisah perjuangan nabi, seperti adanya ancaman, siksaan, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh kafir Quraisy terhadap para sahabat. Seperti kisah Bilal bin Rabah yang disiksa di tengah padang pasir dengan meletakkan batu di atas dadanya. Bahkan kedua orang tua Amr bin Yasir (Yasir dan Sumaiyah) syahid dibunuh oleh kafir Quraisyh. Semua itu mereka hadapi dengan keberanian, walau harus mengorbankan nyawanya.
3. Strategi kepemimpinan
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat memberikan contoh kepemimpinan yang baik kepada umatnya. Mereka tidak mementingkan diri sendiri tetapi mementingkan kepentingan umatnya. Hal ini ditunjukkan Rasulullah ketika kaum muslimin mendapat tekanan dari kafir Quraisy, nabi Muhammad memerintahkan para sahabat hijrah ke Habsy, sedangkan nabi sendiri tetap di Mekah untuk berdakwah menghadapi kaum Quraisy dengan segala resikonya.
4. Kedisiplinan
Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya menanamkan dan memberikan keteladan tentang kedisiplinan seperti disiplin dalam beribadah maupun dalam urusan mu’amalah, seperti shalat tepat pada waktunya, serta bekerja dengan sungguh-sungguh mencari karunia Allah dan sebagiannya dinafkahkan kepada orang yang membutuhkan.
5. Kejujuran
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat selalu bersikap jujur, baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain, kapan dan di manapun. Hal ini telah dicontohkan oleh nabi sendiri dalam berdagang ketika masih berusia muda.
6. Keikhlasan
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat ikhlas dalam berjuang menegakkan dan menyiarkan ajaran Islam tanpa mengharapkan keuntungan duniawai, akan tetapi semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.
7. Kedermawanan
Nabi Muhammad SAW dan para sahabat sangat dermawan, segala yang dimiliki diikhlaskan demi kepentingan agama Islam. Harta maupun jiwa dipergunakan untuk memperjuangkan agama Islam, bahkan mereka rela mati demi agama Islam. Misalnya Abu Bakar r.a. pernah menyumbangkan seluruh hartanya untuk persiapan perang. Ketika itu Rasulullah bertanya: apa yang engkau tinggalkan kepada keluargamu? Abu Bakar menjawab: aku tinggalkan kepada mereka Allah dan Rasulnya. Hal itu dilakukan Abu Bakar dengan keimanan yang kuat bahwa rezeki yang diperoleh hanya karena pemberian Allah semata.
Selain keteladanan di atas, kita juga patut meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW beserta sahabat dalam hal berikut ini.
a. Rasulullah memiliki akhlak yang mulia sehingga ia menjadi teladan bagi orang lain. Oleh karena itu, jika ingin melakukan perubahan maka mulailah dari diri sendiri untuk menghiasi diri dengan perbuatan terpuji.
b. Rasulullah dan para sahabatnya memiliki iman yang kuat serta keteguhan hati sehingga dalam menghadapi kesulitan seberat apapun tetap sabar, maka bersabar dan kuatkanlah keteguhan hati untuk menegakkan agama Islam.
c. Rasulullah adalah sosok pemimpin yang bisa menyatukan hati manusia. Beliau adalah pemimpin yang memiliki kemuliaan, kecerdasan, kebaikan, keutamaan, kejujuran, dan sifat terpuji lainnya. Dengan begitu, para sahabatnya sanga mencintai Rasulullah dan para musuhnya pun sangat takut. Maka jadilah pemimpin yang meneladani Rasulullah.
d. Rasulullah dan para sahabat memiliki tanggung jawab besar untuk meluruskan manusia dari kesesatan. Mereka lebih memilih melaksanakan tanggung jawab tersebut walaupun sangat sulit dari pada menanggung kerugian dan siksa di akhirat kelak. Maka bertanggungjawablah dalam segala urusan dengan tetap berlandaskan iman.
e. Rasulullah dan sahabat sangat yakin kepada hari akhirat dan adanya yaumul hisab. Oleh karena itu, mereka menguatkan hati dalam berdakwah. Maka berimanlah kepada hari akhirat dengan benar sehingga memperkuat semangat kita menegakkan agama Allah.
f. Umat Islam senantiasa diberi petunjuk dengan turunnya surat dan ayat Alquran. Alquran mereka yakini diturunkan untuk membawa kegembiraan dan keberhasilan yang sesungguhnya. Maka pelajari, pahami, hayati, dan amalkanlah al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Iman Kepada Malaikat

Beriman kepada Malaikat adalah rukun Iman yang kedua.
”Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya…” [Al Baqarah:285]
”Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:136]
Malaikat diciptakan Allah dari Nur/Cahaya [HR Muslim] dan merupakan makhluk ghaib yang tidak dapat dilihat oleh manusia kecuali jika Allah mengizinkan.
Malaikat tidak memiliki hawa nafsu dan selalu taat dan melaksanakan perintah Allah:
”Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” [An Nahl:50]
Para Malaikat tidak lalai dalam menjalankan kewajiban:
”Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat- malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” [Al An’aam:61]
Malaikat merupakan hamba Allah yang dimuliakan:
”Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan” [Al Anbiyaa’:26]
Malaikat senantiasa beribadah kepada Allah dan bertasbih:
”Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud” [Al A’raaf:206]
Para Malaikat mengerjakan berbagai urusan yang diberikan Allah kepada mereka:
”Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan untuk mengurus berbagai macam urusan yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Faathir:1]
”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” [Al Qadr:4]
Para malaikat senantiasa berdoa untuk orang-orang yang beriman:
”(Malaikat-malaikat) yang memikul Arasy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,
ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,
dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu, maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. [Al Mu’min:7-9]
Bahkan Malaikat dikirim Allah untuk menolong orang-orang yang beriman jika mereka bersabar dan siap siaga:
.
”Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” [Ali ’Imran:125]
”Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” [Al Ahzab:9]
Jumlah Malaikat banyak dan teratur dalam barisan-barisan yang rapi:
”dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” [Al Fajr:22]
”Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.” [An Naba’:38]
Di antara para malaikat yang wajib setiap orang Islam ketahui sebagai salah satu Rukun Iman berserta tugas-tugas mereka adalah:
1. Jibril - Menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul Allah.
”Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril)” [At Takwiir:19]
”Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”[Al Baqarah:98]
2. Mikail - Membagi rezeki kepada seluruh makhluk, di antaranya menurunkan hujan [QS 2:98]
3. Israfil - Meniup sangkakala (terompet) pada hari kiamat [HR An Nasaa’i]
4. Maut - Mencabut nyawa seluruh makhluk [QS 32:11]
”Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” [As Sajdah:11]
5. Munkar - Memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur [HR Ibnu Abi ‘Ashim]
6. Nakir - Memeriksa amal perbuatan manusia di alam kubur [HR Ibnu Abi ‘Ashim]
7. Raqib - Mencatat amal baik manusia ketika hidup di dunia [QS 50:18]
”Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” [Qaaf:18]
8. Atid - Mencatat amal buruk manusia ketika hidup di dunia [QS 50:18]
9. Malik / Zabaniyah- Menjaga neraka dengan bengis dan kejam
”Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal di neraka.” [Az Zukhruf:77]
”kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah” [Al ’Alaq:18]
10. Ridwan, Penjaga Surga - Menjaga sorga dengan lemah lembut [QS 39:73]
”Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam syurga berombong-rombongan. Sesampai di surga dan pintu-pintunya telah terbuka berkatalah penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan dilimpahkan atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” [Az Zumar:73]
Nama Malaikat Maut, Izrail, tidak ditemukan sumbernya baik dalam Al Quran maupun Hadits. Ibnu Katsir mentafsirkannya dari surat As Sajdah ayat 11 dengan sumber hadits yang tidak jelas [(Ahkamul Jana’iz, I/254 dan Takhrij At-Thahawiyyah, I/72]
Nama Malaikat Ridwan menurut sebagian ahli hadits haditsnya maudhu’ [Dha’if At-Targhib wat Tarhib, I/149 dan Adh-Dha’ifah, X/138]. Dalam QS 39:73 hanya disebut Penjaga Surga.
Hikmah dari beriman kepada malaikat cukup banyak. Misalnya dengan menyadari adanya malaikat Roqib dan ’Atid yang selalu mencatat amal baik/buruk kita, maka kita akan lebih hati-hati dalam berbuat. Kita malu berbuat dosa.
”Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi pekerjaanmu, yang mulia di sisi Allah dan mencatat pekerjaan-pekerjaanmu, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al Infithaar:10-12]
Dengan meyakini adanya malaikat Maut yang mencabut nyawa kita, Munkar dan Nakir yang memeriksa kita di alam kubur serta malaikat Malik yang menyiksa para pendosa di neraka, niscaya kita takut berbuat dosa.
Kita juga bisa meniru ketaatan dan kerajinan malaikat dalam beribadah.
”Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih.” [Al Anbiyaa’:19]
Di TV saya menyaksikan bagaimana pemerintah AS dan Inggris khusus mendirikan Lembaga untuk menyelidiki keberadaan piring terbang/UFO (Unidentified Flying Object) atau makhluk ruang angkasa (alien). Mereka bahkan membuat teleskop radio raksasa untuk mendeteksi keberadaan UFO/alien.
Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa mungkin tidak hanya ada satu alam semesta (universe). Tapi ada alam semesta lain yang paralel keberadaannya (Parallel Universe/Dimension). Sebagai contoh ada orang yang melihat UFO kemudian benda itu menghilang. Sebetulnya tidak hilang. Tapi dia merubah ”frekuensinya” sehingga tidak terlihat lagi oleh mata manusia.
Para ilmuwan itu masih mencari-cari dan meraba-raba keberadaan UFO, Alien, atau Parallel Universe. Padahal dalam Islam hal itu sudah ada penjelasannya. Dalam Islam disebut ada dunia dan ada juga akhirat. Kemudian selain manusia yang kasat mata, ada juga makhluk ghaib seperti jin dan malaikat yang tidak bisa dideteksi oleh manusia. Hanya kadang-kadang saja mereka nampak sehingga Nabi dan para sahabat bisa melihat mereka. Hal yang ghaib ini harus kita imani:
”yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” [Al Baqarah:3]
Jika kadang-kadang ada orang yang mengaku melihat benda yang bersinar dan terbang dengan cepat, meski mungkin tidak semua laporan itu benar, bisa jadi yang mereka lihat itu adalah makhluk ghaib seperti Malaikat yang memang diciptakan Allah dari Nur atau Cahaya.
Malaikat memang biasa naik turun ke bumi pada subuh dan sore hari:
”Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” [Al Israa’:78]
Dan malaikat memang kecepatannya luar biasa yaitu lebih dari 17 juta kali kecepatan maksimal yang dilakukan manusia. Saat ini benda tercepat yang diakui oleh manusia adalah cahaya (300.000 km/detik) dan Malaikat memang diciptakan Allah dari cahaya.
”dan (malaikat-malaikat) yang turun dari langit dengan cepat, dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang” [An Naazi’aat:3-4]
”Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” [Al Ma’aarij:4]

I. Iftitah
Islam adalah agama yang sempurna. Cakupan Islam bukan hanya mengatur masalah hamba dengan Tuhannya, tapi juga mengatur masalah antar sesama hambanya dan hamba terhadap alam ini. Risalahnya pun tak akan pernah usang dimakan zaman. Dimana pun dan hingga kapan pun Islam akan senantiasa survive menjawab masalah hidup.

Secara umum cakupan Islam akan merujuk kepada tiga dasar penting, yaitu aqidah, syari’ah dan akhlaq.[1] Aqidah membahas segala sesuatu yang berkenaan dengan keyakinan dan i’tiqad. Syari’ah pembahasannya mencakup masalah ibadah dan segala amalan manusia yang berhubungan dengan ketaatan terhadap Allah. Sedangkan akhlaq membahas tentang sifat baik dan buruk manusia dalam hidup bermuamalah di dunia ini.

Pada kali ini saya tidak akan membahasa kesemuanya. Saya hanya akan membatasi pada masalah aqidah saja. Pembahasan ini pun sebagai bentuk urun rembruk rekan-rekan serumah di Musalas yang mencoba membedah bukunya Imam Abu Bakr Jâbir Al-Jazâ`iri yang berjudul Minhaj al-Muslim. Dan kebetulan saya dibebankan untuk membahas Iman kepada malaikat.

Sebelumnya, sedikit ingin saya sampaikan apa itu aqidah. Para ulama telah menjadikan masalah aqidah ini sebagai sebuah ilmu tersendiri yang pembahasannya masuk pada materi ushuluddîn. Lalu apa yang dimaksud dengan Ilmu Aqidah. Menurut ‘Audullah Jad Hijazi,
Ilmu aqidah ialah suatu ilmu yang membahas tentang permasalah-permasalahan yang berhubungan dengan zat Allah dan sifat-Nya dari segi penetapan keberadaannya, penetapan kesempurnaan sifat-Nya, penetapan segala af’âl-Nya, tentang rasul-rasul Allah dari segi penetapan kerasulannya, penetapan sifatnya, tentang al-ma’âd (tempat kembali; akhirat), pahala dan siksa, tentang kitab-kitab dan penetapannya bahwa kitab tersebut dari Allah dan membahas juga tentang segala kejadian yang menimpa manusia dalam qodho dan qodar Allah. Ilmu aqidah juga dinamakan dengan ilmu tauhid, ilmu kalam, atau ilmu ushuluddin.[2]
Dengan kata lain, bahwa pembahasan utama ilmu aqidah adalah mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan keimanan.

Ilmu aqidah ini sangat penting karena keberadaan aqidah itu sendiri sebagai pondasi dalam agama. Tahapan dakwah Rasulullah saw. pun untuk awal sekali beliau tanamkan pada sahabatnya adalah masalah aqidah.


II. Iman kepada Malaikat
Malaikat (ملائكة) adalah bentuk jama’ dari malak (ملك). Ulama berbeda pendapat menganai apakah malaikat ini termasuk pada kata musytaq (memiliki asal-usul kata) atau jamid (istilah tersendir tidak memiliki asal kata). Demikian sebagaimana yang disampaikan Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya.[3] Namun terlepas dari itu, malaikat adalah makhluk ghaib yang Allah ciptakan dari cahaya. Malaikat senantiasa taat kepada setiap apa yang Allah perintahkan. Allah telah membebani mereka dengan tugas-tugas tertentu. Diantara sekian banyaknya jumlah malaikat, sepuluh malaikat diantaranya yang disebut dalam Qur’an dan Hadits.

Iman kepada malaikat adalah sebuah kewajiban, merupakan iman kedua setelah iman kepada Allah. Disebut kafir jika seseorang mengingkari akan adanya malaikat. Allah berfirman, “Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, kitab-kitab-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.”[4]

Sebagian ulama ada yang menggolongkan iman kepada malaikat ini termasuk kepada masalah sam’iyât. Masalah sam’iyât ialah masalah-masalah dalam aqidah yang wajib dipercayai dan dibenarkan keberadaannya dengan dasar dalil-dalil simâ’ (didengar), yaitu Qur’an, Sunnah Shahihah dan Ijma.[5] Dengan kata lain masalah sam’iyât adalah kepercayaan yang hanya berdasarkan nas-nas syar’i belaka tanpa bisa dirasionalkan oleh akal.

Jika demikian iman kepada malaikat hanya berdasarkan kepada dalil-dalil nas Qur’an dan Sunnah belaka tanpa bisa dibuktikan keberadanya oleh akal. Namun, kewajiban iman kepada malaikat adalah nyata, meski tidak bisa dirasionalkan oleh akal.

III. Dalil-Dalil Adanya Malaikat
Mengutip pendapat Imam Al-Jazâ`iri dalam Minhaj al-Muslim-nya, menurutnya adanya malaikat ini bisa dibuktikan dengan dasar dalil naqli dan dalil aqli.[6] Dari sini kita bisa menilai, jika Imam Al-Jazâ’iri termasuk ulama yang menyatakan bahwa adanya malaikat ini bisa dibuktikan dengan akal. Berikut ringkasan pendapat Imam Al-Jazâ’iri.
a. Dalil Naqli
Dalil naqli yang dimaksud Imam Al-Jazâ‘iri pengertiannya lebih umum, bukan hanya sesuatu yang dinukil dari Qur’an dan Sunnah saja, tetapi termasuk juga berita-berita yang sifatnya telah dinukilkan turun menurun secara mutawatir. Menurutnya, adanya malaikat itu berdasarkan pada:
1. Perintah Allah untuk beriman kepada malaikat. Hal ini termaktub dalam beberapa ayat Qur’an. Bisa dilihat dalam al-Nisâ (4): 136, al-Baqarah (2): 98, al-Nisâ (4): 172, al-Hâqqah (69): 17 dll.
2. Berdasarkan sabda Rasulullah saw. dalam do’anya ketika beliau shalat malam.[7]
3. Para sahabat yang melihat malaikat saat perang badr. Diceritakan bahwa banyak diantara para sahabat Rasul saw. ketika perang badr yang melihat bala bantuan malaikat. Atau saat para sahabat didatangi tamu yang merupakan jelmaan malaikat Jibril, menanyakan masalah Iman, Islam dan Ihsan.
4. Keimanan ribuan pengikut para rasul terdahulu terhadap malaikat berdasarkan penyampaian rasul-rasul mereka.
b. Dalil Aqli
1. Secara riil akal tidak menolak dan tidak pula menafikan adanya malaikat. Akal tidak akan menolak sesuatu hal kecuali sesuatu itu memiliki sifat penyatuan dua hal yang bertentangan, seperti adanya gelap dan terang secara bersamaan.
2. Bahwa segala sesuatu itu ada berdasarkan adanya bekas dan atsarnya. Maka adanya malaikat bisa dibuktikan dengan adanya atsar malaikat, sebagai berikut:
- sampainya wahyu kepada para rasul dan para nabi, karena wahyu disampaikan oleh malaikat Jibril. Bukti ini menjelaskan bahwa malaikat itu ada.
- wafatnya makhluq dengan dicabut ruh. Ini membuktikan bahwa ada malaikat yang bertugas mencabut nyawa, yaitu malakul maut.
- penjagaan manusia dari kejahatan jin dan syetan selama hidupnya. Mereka hidup disekitar manusia dan menggodanya, sedangkan manusia tidak bisa melihat mereka. Hal ini membuktikan bahwa ada penjaga yang menjaga manusia dari kejahatan mereka, yaitu malaikat.
3. Sesuatu yang tidak bisa dilihat bukan berarti itu tidak ada, karena mata manusia sangat terbatas.

IV. Ikhtitam
Imam Al-Jazâiri berusaha merasionalkan tentang adanya malaikat ini. Namun, setelah kita melihat dalil aqli yang disampaikan Imam Al-Jazâ’iri sepertinya kurang mengena. Jika kita meneliti lebih jauh, dalil yang disampaikan Imam Al-Jazâ’iri ini ujung-ujungnya membutuhkan kepada dalil naqli juga. Menurut hemat saya, saya lebih sepakat kepada para ulama yang menggolongkan malaikat kepada masalah sam’iyât. Memang iman kepada malaikat ini terbatas hanya berdasar dalil nas saja, tidak bisa dirasionalkan. Akal manusia tidak mampu menjangkau pengetahuan alam ghaib, semisal malaikat ini secara fundamental.

Iman kepada malaikat ini relatif tidak ada masalah. Sejak dahulu telah dipercaya bahwa malaikat itu ada. Bahkan pada masa Jahiliyah pun malaikat ini sampai disembah sebagai tuhan. Dan jika kita melihat dalam pembahasan ilmu kalam, masalah malaikat ini tidak begitu rumit seperti halnya permasalahan keimanan lainnya.

Kita meyakini bahwa malaikat adalah simbol keberkahan. Hikmah yang didapat jika kita mempercayai malaikat adalah ketaatan kita kepada Allah sebagai penguasa seluruh alam ini. Jika ada yang bertanya kenapa harus ada malaikat, bukankah Allah tak cukup kuasa untuk melakukan semua tugas yang dibebankan kepada malaikat.(?) Bukankah jika demikian Allah itu membutuhkan kepada yang lain.(?)

Maka jawabnya adalah tidak benar jika Allah tidak berkuasa. Adanya malaikat justru menunjukkan bahwa kuasa Allah itu tak bertepi. Tentulah Allah akan sangat mampu untuk melakukan semua tugas malaikat. Namun, disitulah letak kekuasaan dan kemuliaan Allah. Layaknya seorang penguasa, tentu penguasa tidak akan langsung turun tangan menangani segala urusannya, pembantu merupakan simbol bahwa dia begitu berkuasa. Wallâhu a’lâm
* Bahan urun rembruk rekan-rekan di Keluarga Rumahku Surgaku dalam Kajian Minhajul Muslim. Bertempat di Villa Biru Musalas, Jum’at, 9 Desember 2005.
** Memohon Taufik-Nya, mahasiswa yang lagi in the end.
[1] Dr.‘Audhullâh Jâd Hijâzi, Dirâsât fl al-‘Aqîdah al-Islâmiyyah (Dâr at-Thaba’ah al-Muhammadiyah cet. ke-2, Cairo) hal. 4
[2] Ibid. hal. 10
[3] Lebih lanjut bisa dibaca dalam kitab tafsir Imam al-Qurthubi, al-Jâmi’u li ahkâmi al-Qur’an (Dâr al-Hadits, Cairo) juz awal hal. 250
[4] QS. Al-Nisâ’ (4): 136
[5] Dr. ‘Audhullâh Jâd Hijâzi, op cit. hal. 121
[6] Abu Bakr Jâbir al-Jazâ’iri, Minhaj al-Muslim (Dâr ibn al-Haitsam, Cairo) hal. 20
[7] Lebih jelas bisa dilihat dalam Minhaj al-Musli